Mengenal Sejarah Musik Keroncong dan Alat Musiknya

Mengenal Sejarah Musik Keroncong dan Alat Musiknya

Mengenal Sejarah Musik Keroncong dan Alat Musiknya – Siapa yang tidak kenal musik keroncong? Musik yang merdu dan mengharukan. Ciri khasnya adalah musik lembut dan nada super lembut. Tapi darimana asal musik keroncong ini? Dan instrumen apa yang digunakan?

Mengenal Sejarah Musik Keroncong dan Alat Musiknya

Sumber : klinikmusik.wordpress.com

deanandbritta – Musik keroncong masuk ke Indonesia sekitar tahun 1512, ketika ekspedisi Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque datang ke Malaka dan Maluku pada tahun 1512. Tentu saja para pelaut Portugis membawakan lagu-lagu jenis Fado, yaitu lagu-lagu daerah Portugis dengan aksen Arab (skala lebih kecil, karena bangsa Arab Moor pernah menjajah Portugal / Spanyol pada 711-1492, dan di Amerika Latin (bekas jajahan Spanyol) masih ada Fado Lagu-lagu berjenis, seperti yang dinyanyikan oleh Trio Los Panchos atau Los Paraguayos, atau lagu-lagu dari Sumatera Barat (budaya Arab) seperti Ayam Den Lapeh.

Pada tahun 1661, pemerintah VOC menyelamatkan tahanan dan budak Portugis dari Goa (India) di desa Tua di India, dengan syarat mereka harus pindah agama dari Katolik ke Protestan untuk menyanyikan lagu-lagu Fado seperti gereja Protestan. kebiasaan skala. dari.

Selain itu, Musik Keroncong lahir pada tahun 1880, dan masa-masa awal Musik Keroncong juga banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu Hawaii. Di Indonesia juga berkembang pesat seiring dengan musik Keroncong (lihat musik suku Ambon atau musik Hawaian untuk lansia yang dipimpin oleh Jenderal Polri Hugeng).

Alat musik

Pada bentuk awalnya, moresco diiringi oleh musik petik, seperti biola, ukulele, dan cello. Terkadang instrumen perkusi juga digunakan. Orkes ini masih dipakai oleh keroncong Tugu.Keroncong adalah salah satu bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh masyarakat keturunan budak Portugis yang tinggal di Ambon, desa Tugu di Jakarta Utara, dan kemudian diracik oleh masyarakat Betawi di Kemayoran dan Gambir. Musik Tanjidor berkembang di Selatan (1880-1920). Pada 1920-1960, pusat pembangunan dipindahkan ke Solo dan disesuaikan dengan kecepatan yang lebih lambat berdasarkan ciri-ciri orang Jawa.

Pem- “pribumi” -keroncong membandingkannya dengan itu

sitar India
rebab
suling bambu
gendang, kenong, dan saron sebagai satu set gamelan
gong.

Saat ini, instrumen yang digunakan oleh Colungon Orchestra meliputi:

Ukulele dengan 3 dawai (nilon), urutan nada adalah G, B dan E. Sebagai alat musik utama dari vokal ong, maka disebut keroncong (ditemukan di Hawai pada tahun 1879, yang merupakan awal dari tonggak sejarah musik keroncong)
Cak ukulele, senar 4 (baja), ordo A, D, Fis dan B. Oleh karena itu, ketika instrumen lain memainkan tangga nada C, cak memainkan tangga nada F (disebut F).
Gitar folk, sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya p (anti melodi);
Biola (bukan Rebab); sejak diproduksi oleh Amati atau Stradivarius di Cremona, Italia sekitar tahun 1600, modelnya tidak pernah diubah;

Suling (sebagai pengganti seruling bambu) Pada zaman Tempo Doeloe menggunakan suling Albert (seruling kayu hitam berlubang dan berlubang, suaranya agak pecah seperti Orkestra Lief Java), dan pada era Keroncong Abadi. Pakai Suling Bohm (Semua seruling logam dengan katup), suaranya dihias dengan nada-nada indah, seperti pemain suling Sunarno dari Solo atau Beny Waluyo dari Jakarta, suaranya lebih halus.
Cello; betot menggantikan kendang, dan itu tidak berubah sejak Amati dan Stradivarius Cremona Italia 1600 dibuat, hanya dimainkan di pizzicato khas di keroncong.
Bass ganda (bukan gong) tidak berubah sejak Amati dan Stradivarius dari Cremona Italia 1600 dibuat.

Ukulele dan pengatur ritme kontrol bass. Mainkan gitar dan cello ritmis untuk mengatur transisi akor. Biola dapat digunakan sebagai panduan melodi atau sebagai ornamen. Seruling diisi dengan dekorasi atas, mengambang mengisi ruang melodi yang kosong.

Sekarang, musik pop campuran bentuk keroncong menggunakan organ tunggal dan synthesizer untuk mengiringi lagu-lagu keroncong (dalam pesta organ tunggal di mana keroncong, dangdut, rock, polka, dan Mars bisa dimainkan).

Jenis keroncong

Musik keroncong lebih mengutamakan progresi akor dan jenis alat musik yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20, setidaknya telah dikenal tiga jenis keroncong yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi musisi yang sudah paham alurnya, mengiringi lagu keroncong sebenarnya tidak sulit, karena cukup menyesuaikan dengan mode mainstream. Selesaikan pengembangan dengan menjaga konsistensi model. Selain itu juga banyak bentuk dan adaptasinya.

Perkembangan musik keroncong masa kini

Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kehadiran orang Portugis di Indonesia (1522) dan permukiman para budak di daerah Kampung Tugu th. 1661, dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, tetapi belum membuktikan identitas keroncong yang sebetulnya bersama dengan nada crong-crong-crong, supaya boleh dikatakan musik keroncong belum lahir th. 1661-1880.

Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek paling akhir sejak th. 1880 hingga kini, bersama dengan tiga step pertumbuhan paling akhir yang telah terjadi dan satu perkiraan pertumbuhan baru (keroncong millenium). Tonggak awal adalah pada th. 1879 , di pas penemuan ukulele di Hawai ,yang segera jadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong), namun awal keroncong millenium telah tersedia tanda-tandanya, tetapi belum berkembang (Bondan Prakoso).

Empat step masa pertumbuhan tersebut adalah

(a) Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920),
(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan
(c) Masa keroncong modern (1960-2000), serta
(d) Masa keroncong millenium (2000-kini)

Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920)

Ukulele ditemukan pada th. 1879 di Hawaii, sehingga diperkirakan pada th. selanjutnya Keroncong baru menjelma pada th. 1880, di tempat Tugu lantas menyebar ke selatan tempat Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, kurang lebih th. 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya th. 1891, bersifat Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya melalui jalur kereta api maupun kapal api. Pada kebanyakan pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada selagi itu Stambul I, Stambul II, dan Stambul III.

Pada selagi itu lagu Stambul mempunyai irama cepat (sekitar mtr. 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Warga Kampung Tugu maupun Kusbini menyebut sebagai Keroncong Portugis, namun Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat, dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan rekaman Idris Sardi main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen berasal dari M. Sagi). Seperti diketahui bahwa panjang lagu stambul adalah 16 birama, yang terdiri atas:

Stambul I:

Lagu ini seandainya Terang Bulan, Potong Padi, Nina Bobo, Sarinande, O Ina Ni Keke, Bolelebo, dll. dengan susunan bentuk A – B – A – B atau A – B – C – D (16 birama):
Stambul II:

Lagu ini seandainya Si Jampang, Jali-Jali, di mana masuk terhadap Akord IV sebagai ciri Stambul II dengan susunan A – B – A – C (16 birama):

|I . . . |. . . . |. . . . |IV,,, | (tanda . bermakna tacet)
|,,,, |,,,, |,, V7, |I,,, |
|,,,, |,,,, |,,,, |V7,,, |
|,,,, |,,,, |,,,, |I,,, ||

Stambul III:

Lagu ini seandainya Kemayoran, di mana sama dengan Keroncong A sli sehingga kerap keliru diucapkan dengan Kr. Kemayoran, yang seharusnya Stambul III Kemayoran, dengan susunan Prelude – A – Interlude – B – C (16 birama):

Pr|I,,, |,,,, | Prelude 2 birama
A1|,,,, |,,,, |
A2|II#,,,|V7,,, | Modulasi 2 birama
In|,,,, |IV,,, | Interlude 2 birama
B1|,,,, |I,,, |
B2|V7,,, |I,,, |
C1|,,,, |,,,, |
C2|V7,,, |I,,, ||

Musiq Losquin Makassar: Dari periode tempo doeloe ini lahir pula di Makassar bentuk keroncong khas yang dikenal sebagai musiq losquin’. Irama keroncong ini, tanpa seruling-biola-cello, tapi dengan melodi guitar yang kental, sama layaknya type Tjoh de Fretes berasal dari Ambon. Kalau kami hubungkan kesemua ini, maka ada garis kesamaan dengan Orkes Keroncong Cafrino Tugu (Kr. Pasar Gambir) – Orkes Keroncong Lief Java (Kr. Kali Brantas) – Losquin – Orkes Hawaian Tjoh de Fretes (Pulau Ambon), yaitu type jaman tempo doeloe dengan irama yang cepat sudah dengan kendangan cello dan dengan guitar melodi yang kental.

Baca Juga : 5 Seni Budaya Indonesia Yang Mendunia

Masa keroncong abadi (1920-1960)

Sumber : sanskertaonline.id

Pada masa ini panjang lagu udah berubah jadi 32 birama, akibat pengaruh musik pop Amerika yang melanda lantai dansa Hotel2 di Indonesia terhadap saat itu, bersama dengan musisi didominasi berasal dari Filipina (spt Pablo, Sambayon, dll), dan berakibat termasuk lagu terhadap saat itu udah 32 birama juga, memperhatikan lagu Indonesia Raya (diciptakan th. 1924) terhadap saat itu termasuk udah 32 birama. Selanjutnya pusat pertumbuhan berubah ke timur mengikuti jaringan kereta api lewat Solo dan iramanya termasuk lebih lamban (sekitar 80 untuk seperempat nada) bersama dengan kendangan cello serupa kendangan gamelan, dan permainan gitar melodi serupa alunan siter musik gamelan yang kontrapuntis. Masa ini lahir para musisi Solo, layaknya Gesang dan penyanyi legendaris Annie Landouw. Lagu Keroncong Abadi terdiri atas: Langgam Keroncong, Stambul Keroncong, dan Keroncong Asli.

Langgam Keroncong

Bentuk lagu langgam tersedia dua versi. Yang pertama A – A – B – A bersama dengan pengulangan berasal dari bagian A ke dua layaknya lagu standar pop: Verse A – Verse A – Bridge B – Verse A, panjang 32 birama. Beda sedikit terhadap versi kedua, yakni pengulangannya segera terhadap bagian B. Meski udah mempunyai bentuk baku, tetapi terhadap perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan. Penyanyi serba dapat Hetty Koes Endang misalnya, dia kerap merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam memanfaatkan irama yang sama, dan biasanya selalu dinamakan langgam. Alur akord-nya sebagai berikut:

Verse A | V7,,, |I,,, | IV, V7, | I,,, | I,,, | V7,,, | V7,,, | I,,, |
Verse A |V7,,, | I,,, | IV, V7, | I,,, | I,,, | V7,,, | V7,,, | I,,, |
Bridge B |I7,,, |IV,,, | IV, V, | I,,, | I,,, | II#,,, | II#,,, | V,,,|
Verse A |V7,,, |I,,, | IV, V7, | I,,, | I,,, | V7,,, | V7,,, | I,,, |

Stambul Keroncong:

Stambul Keroncong berwujud (A-B-A-B’) x 2 = 16 birama x 2 = 32 birama, merupakan modifikasi Stambul II yang 16 birama menjadi 32 birama (menyesuaikan standar Keroncong Abadi yang 32 birama). Stambul merupakan tipe keroncong yang namanya diambil alih dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia bersama nama Komedi stambul. Nama “stambul” diambil alih dari Istambul di Turki.

Alur akord Stambul Keroncong adalah sbb. (tanda – adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):

|I – – – | – – – – | – – – – |IV,,, | dibuka dg broken chord I utk mencari nada
|IV,,, |IV,,, |IV, V,|I,,, |
|I,,, |I,,, |I,,, |V,,, |
|V,,, |V,,, |V,,, |I,,, |
|I,,, |I,,, |I,,, |IV,,, | 16 birama ini pengulangan dari 16 birama pertama atau sama
|IV,,, |IV,,, |IV, V, |I,,, |
|I,,, |I,,, |I,,, |V,,, |
|V,,, |V,,, |V,,, |I,,, |

Keroncong Asli

Keroncong asli memiliki bentuk lagu A – B – B’. Lagu terdiri atas 8 baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka bersama PRELUDE 4 birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi INTERLUDE standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga. Keroncong asli di awali oleh voorspel atau prelude, atau intro yang diambil alih dari baris 7 (B3) mengarah ke nada/akord awal lagu, yang dikerjakan oleh alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau gitar; dan tussenspel atau interlude atau intermezzo di tengah-tengah sehabis modulasi/modulatie/modulation yang standar untuk semua keroncong asli: Alur akordnya seperti tersusun di bawah ini:

Pr |V,,, |I, I7, |IV, V7, |I,,, | Prelude 4 birama diambil alih dari baris ke-7 (B3)
(A1) | I,,, | I,,, | V,,, | V,,, |
(A2) |II#,,, | II#,,, | V,,, | Modulasi merupakan ciri keroncong asli sebanyak 4 birama
In |V,,, | V,,, | V,,, |IV,,, | Interlude 4 birama untuk semua lagu menjadi standar
(B1) | IV,,,| IV,,,|V7,,, | I,,, |
(B2) |I,,, | V7,,, | V7,,, | I, I7, |
(B3) |IV, V7, |I, I7, | IV, V7, |I,,, |
(B2) | I,,, | V7,,, | V7,,,| I,,, |

Kadensa Keroncong Dalam Teori Musik Klasik dikenal 4 (empat) tipe Kadensa, di mana Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni sebagai penutup pada akhir melodi atau di tengah kalimat, agar bisa menutup prima melodi tersebut atau setengah menutup (sementara) melodi tersebut. Sedangkan Tierce de Picardy boleh dimasukan di dalam Kadensa, dan pada Masa Keroncong Abadi tercipta satu Kadensa baru, disebut Kadensa Keroncong bersama rangkaian penutup I-I7-IV-V7-I.

Kadensa bersama rangkaian V7-I disebut sebagai Kadensa Sempurna, dikarenakan prima menutup rangkaian tersebut dan menjadi berhenti sempurna.
Tetapi kecuali akord X-V7 menjadi akhir rangaian, maka disebut Kadensa Tidak Sempurna atau Setengah Kadensa, sekiranya rangkaian Super Tonik – Dominan Septim.
Kalau rangkaian harmoni diakhiri pada X-VI, maka disebut Kadensa Terputus, sekiranya Doninan Septim – Submedian.
Dalam rangkaian IV-I disebut Kadensa Plagal, membawa karakter sendu seperti kecuali kita mengucap “Amin” di dalam salat.
Lagu kunci minor ditutup pada kunci mayor, disebut Tierce de Piecardy, menjadi sebetulnya bukan kadensa, tetapi umumnya dipakai di dalam akhir lagu
Kadensa Keroncong, spesifik dikembangkan di dalam musik keroncong, yakni rangkaian harmoni I7-IV-V7-I

Ismail Marzuki (1914-1958) Komponis Ismail Marzuki juga hidup di dalam Era Keroncong Abadi, tetapi lagu-lagunya terlalu moderen pada zamannya, sekiranya Sepasang Mata Bola ditulis di dalam kunci minor agar bisa dinyanyikan bersama iringan keroncong seperti keroncong beat (1958).

Gambang Keromong Gambang Keromong adalah salah satu jenis keroncong yang dikembangkan oleh Etnis Tionghoa (gambang adalah alat musik bilah kayu seperti marimba, sedang keromong adalah arti lain dari kempul) yang dikembangkan kira-kira tahun 1922 di Kemayoran Jakarta (tanjidor), tetapi kemudian berkembang di Semarang kira-kira tahun 1949 (ingat lagu Gambang Semarang – Oey Yok Siang). Sebenarnya Gambang Keromong yang lahir pada Masa Keroncong Abadi 1920-1960 adalah cikal akan Campursari yang lahir pada Masa Keroncong Modern.

Masa Keemasan (The Golden Age). Pada tahun 1952, Radio Republik Indonesia (RRI) menyelenggarakan perlombaan Bintang Radio bersama 3 jenis, Keroncong, Hiburan dan Seriosa. Di sanmping itu juga dilombakan mencipta lagu keroncong, salah satu pememnag adalah Musisi Kusbini bersama lagu Keroncong Pastoral. Pada era akhir dari Keroncong Abadi (1920-1960) ini merupakan Masa Keemasan (Golden Age) bagi musik keroncong.

Masa keroncong modern (1960-2000)

Perkembangan keroncong tetap di daerah Solo dan sekitarnya, tetapi terlihat bermacam model baru yang berlainan bersama Masa Keroncong Abadi (termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai bersama lingkungannya.

Mulai Masa keroncong modern (1960-2000) seluruh ketentuan baku (pakem) Musik Keroncong tidak berlaku, dikarenakan ikuti ketentuan baku (pakem) Musik Pop yang berlaku universal, bila tangga nada minor, moda pentatonis Jawa/Cina, rangkaian harmoni diatonik dan kromatik, akord disonan, cii-ciri politonal atau atonal (pada campursari), tidak megenal kembali pakem bentuk keroncong asli atau stambul, tersedia irama nuansa dangdut (congdut), menjadi tahun 1998 musik rap menjadi masuk (Bondan Prakoso), dlsb.
Langgam Jawa

Bentuk adaptasi keroncong pada normalitas musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berlainan berasal dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa miliki ciri tertentu pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili bersama modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan ada bawa atau suluk berwujud introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum saat irama di mulai secara utuh. Tahun 1968 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari.

Umumnya mempunyai susunan lagu pop yaitu A – A – B – A atau termasuk A – B – C – D dangan kuantitas 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang kondang pada tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008): Yen Ing Tawang Ana Lintang (Tawang dalam Bahasa Jawa berarti: awang-awang, langit, dan arti lain nama suatu desa di Magetan, Kalau di Langit Ada Bintang). Langgam Jawa menjadi kondang oleh Waljinah yang pernah sebagai juara tingkat sekolah SMP di RRI Solo tahun 1958.

Keroncong Beat

Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar pimpinan Rudi Pirngadie, di Jakarta pada tahun 1959 dan bisa mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih berwujud universal). Pada selagi itu Idris Sardi ikut tur ke New York World’s Fair Amerika Serikat bersama biola tahun 1964 bersama maksud sudi memperkenalkan lagu pop barat (I left my heart in San Fransico, pada selagi itu tahun 1964 lagu ini merupakan tidak benar satu hit di dunia) bersama iringan keroncong beat, tetapi dia kena denda melanggar hak cipta akibat tanpa izin.

Dengan Keroncong Beat maka bermacam lagu (bukan bersama rangkaian harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) bisa dinyanyikan seperti La Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.

Campur Sari

Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) terhadap tahun 1968 Manthous memperkenalkan gabungan alat gamelan dan musik keroncong, yang kemudian dikenal sebagai Campursari. Kini area Yogya, Solo, Sragen, Ngawi, dan sekitarnya, populer sebagai pusat para artis musik campursari.
Keroncong Koes-Plus

Koes Plus dikenal sebagai perintis musik rock di Indonesia, terhadap kurang lebih tahun 1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan adalah Keroncong Koes Plus bersama dengan susunan bentuk campuran (dalam bahasa Belanda disebut Meng-vorm atau Inggris Combine form) pada Stambul II dan langgam Keroncong.
Keroncong Dangdut (Congdut)

Keroncong dangdut (Congdut) adalah jawaban atas derasnya pengaruh musik dangdut dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring bersama dengan menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah musisi, konon di mulai dari Surakarta, memasukkan unsur beat dangdut ke dalam lagu-lagu langgam Jawa klasik maupun baru. Didi Kempot adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang populer pada lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.

Masa Kejayaan Musik Keroncong. Pada Masa Keroncong Modern adalah Masa Kejayaan Musik Keroncong, di mana terdengar di mana-mana musik Langgam Jawa, Keroncong Beat, Campursari, koes Plus dan paling akhir bersama dengan Congdut dari Didi Kempot, sampai ke Suriname dan Belanda (1997-2008). Rupa-rupanya ini merupakan puncak kejayaan Musik Keroncong, supaya Gesang kuatir bahwa Keroncong Akan Mati (2008, ucapan dia sebelum saat wafat).

Masa keroncong millenium (2000-kini)

Walaupun musik keroncong di jaman millenium (tahun 2000-an) belum jadi anggota berasal dari industri musik pop Indonesia, tapi lebih dari satu pihak tetap mengapresiasi musik keroncong. Kelompok musik Keroncong Merah Putih, kelompok keroncong berbasis Bandung tetap cukup aktif lakukan pertunjukan. Selain itu, Bondan Prakoso dan grupnya Bondan Prakoso & Fade 2 Black, menciptakan komposisi berjudul “Keroncong Protol” yang berhasil memadukan musik jenis rap dengan musik latar belakang irama keroncong. Pada tahun 2008 @ Solo International Keroncong Festival, Harmony Chinese Music Group membuat keadaan lain dengan memasukan unsur alat musik tradisional Tionghoa dan menamainya sebagai Keroncong Mandarin. Congrock 17 memadukan dan memadukan musik rok dan musik keroncong.
Tokoh keroncong

Salah satu tokoh Indonesia yang punya kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini apalagi beroleh santunan tiap tiap tahun berasal dari pemerintah Jepang gara-gara berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah lagu Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong. Gesang menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang di Jakarta (Tugu, Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat; sedangkan sehabis pusat perkembangan ganti ke Solo (MASA KERONCONG ABADI: 1920-1960) iramanya jadi lebih lambat.

Asal muasal sebutan “Buaya Keroncong” untuk Gesang berkisar pada lagu ciptaannya, “Bengawan Solo”. Bengawan Solo adalah nama sungai yang berada di lokasi Surakarta. Seperti diketahui, buaya punya habitat di rawa dan sungai. Reptil terbesar itu di habitanya hampir tak terkalahkan, gara-gara jadi pemangsa yang ganas. Pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa Gesang disebut sebagai “Buaya Keroncong”.

Di sisi lain nama Andjar Any (Solo, pencipta Langgam Jawa lebih berasal dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga membawa andil dalam keroncong untuk Langgam Jawa beserta [[Waldjinah99 (Solo), sedangkan R. Pirngadie (Jakarta) untuk Keroncong Beat, Manthous (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan Koes Plus (Solo/Jakarta) untuk Keroncong Rock, serta Didi Kempot (Solo) untuk Congdut. seperti yang dilansir wikipedia